Entah kenapa, tiba-tiba saya tertarik menulis tentang masalah kerja. Mungkin karena tiba-tiba juga banyak orang disekitarku yang bicara masalah kerja?!! Cari kerja, pindah kerja, berhenti bekerja, sampai malas bekerja !
Yang cari kerja, -sibuk baca lowongan, buat lamaran, wawancara dimana-mana, dan selalu pakai baju kemeja. Yang mau pindah kerja, -mengeluh masalah gaji dan keadaan kantor yang membosankan. Sementara yang berhenti bekerja, tak tahu harus bagaimana. Karena, usia udah memasuki gerbang “ketuaan” untuk melamar pekerjaan. Dan yang malas bekerja, -ahh sudahlah tak usah dibahas aktifitasnya. Yang pasti ada, meski cuma duduk dan senyum manis dipojok sembari mengkhayal jadi orang kaya.
Kerja tidak sama dengan kerja !??
Banyak orang dengan mudahnya mencari pekerjaan, namun tidak sedikit juga yang sikut-sikutan demi meraih pekerjaan. Kemudian ada yang telah diterima bekerja, namun tak bisa bertahan kurang dari beberapa bulan. Ada juga yang telah bertahun-tahun bekerja, masih dilevel itu-itu saja. Pertanyaannya, kenapa bisa begitu?
Menurut saya ada beberapa faktor :
1. Orientasi
Uang, adalah orientasi paling berbahaya menurut saya jika dia dijadikan “dewa”. Karena saking getolnya menargetkan uang/kaya sebagai tujuan utama, taste dalam proses mendapatkan uang pun hilang, lalu terjebak dalam rutinitas mencapai tujuan.
Saya tidak mengatakan uang itu tidak penting! Uang itu penting, sangat penting. Tapi cobalah berfikir sebaliknya. Menggunakan taste dalam segala keadaan, dan kita akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal, plus prestise yang notabene lebih kekal dibanding uang. Dan siapapun bisa menilai dari awal, muka kita muka uang, atau uang kita uang muka ! (????)
2. Kejujuran
Siapapun tahu, kejujuran adalah modal yang sangat dianjurkan dalam semua bidang kerja. Tapi saya tidak bicara masalah hubungan kerja kita dengan orang lain, tapi kejujuran kita terhadap diri sendiri. Karena banyak orang yang tidak jujur pada diri sendiri karena takut melawan arus, takut salah dan bos marah (yang penting ABS lah=asal bapak senyum).
Bukan artinya harus arogan, tapi kita harus punya tanggung jawab profesi. Ini adalah masalah pendapat, dan kita harus jujur dan mengutarakannnya lewat cara yang terhormat ! Cause we get paid for it !
Kalau boleh diserupakan, seperti saya yang seorang designer grafis, profesi saya menuntut mensinergikan maunya klien dan kelayakan atas suatu design. Tapi jika hal itu bertentangan, saya harus jujur dan memberikan pola serta masukan terbaik. Jika saya hanya memikirkan approve tanpa kualitas dan kelayakan, berarti klien rugi. Karena itu masalah pencitraan. Dan saya telah membohongi klien dan diri sendiri. Tapi jika sebaliknya, jika dia menggunakan saran saya dan merasa puas, bukan mustahil repeat order akan menanti.
3. Mental
Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan, menurut saya adalah mental. Seorang Donald Trump, jika terdampar tanpa sepeser uang disatu kota asing bersama seorang pengemis berpengalaman, siapakah yang lebih dahulu kaya?Kita pasti sudah tahu jawabannya, karena dimana-mana, orang bermental “kejar bola” akan lebih unggul dari orang bermental “tunggu bola”. Dan begitulah mengapa Donald Trump begitu sukses saat ini.
Mental inilah yang membedakan level kita dengan orang lain. Bagaimana menyikapi saat stuck, problem solving ataupun failed. Secara teori, mental terbaik dapat disiapkan. Tapi penentuan sebenarnya, ada pada saat kita berhadapan langsung dengan hal-hal semisal itu. Apakah kita punya mental baja atau mental triplek???
4. Karakter
Banyak ragam karakter orang dalam bekerja. Ada yang hanya semangat pas akhir bulan saja. Ada juga yang cuma menunggu perintah dari atasan. Ada yang masa bodo, genit, cari muka, dlsb.
Kita datang kekantor, duduk, kerjakan perintah atasan, lalu pulang, –begitu setiap hari. Itu juga tetap dinamakan kerja. Dan kita mendapatkan gaji setiap bulan, tapi tidak lebih! Tapi bagaimana kalau kita lebih menampilkan diri? Memberikan warna!? Eksplorasi kemampuan!? Pastinya tidak hanya uang yang bakalan kita peroleh. Dan banyak orang yang telah melakukannya dan berhasil. Karena mereka tidak hanya sekedar kerja, tapi lebih dari itu.
Sekarang kebanyakan orang berfikir, yang penting bagaimana caranya bisa kerja, meski tidak sesuai dengan latar pendidikannya. Ada lagi yang kuliah agar bisa bekerja, -padahal kuliah itu bukan cari kerja, tapi ilmu!
Hal itu tidak salah. Tapi kalo bisa lebih, kenapa tidak!? Bukan tidak mungkin bila pekerjaan yang menghampiri kita. Tapi dengan catatan, kita layak jual! Karena akan begitu nikmat rasanya kalau kita berkerja dengan talented serta mengerjakan hal yang kita senangi.
Nah, agar kerja membuat kaya, bahagia dan ketenaran, mari kita poleskan warna-warna pada setiap pekerjaan. Kemudian anda akan tahu, apa bedanya kerja dengan kerja !!!
“Tiba-tiba aku tersadar, hey !!! apa yang kukerjakan?
Ternyata, ngedesign itu lebih gampang daripada menulis“




Recent Comments